Iklan

Masih Percaya Harus Makan 3 Kali Sehari? Ini Fakta Medis yang Jarang Dibahas

Posting Komentar
Menu Makanan Sehat

SURAT KABAR - Sejak kecil, kita hampir selalu dicekoki satu aturan yang terdengar sakral, makan tiga kali sehari pagi, siang, dan malam. Aturan ini seolah jadi pakem hidup sehat. 

Tapi di era sekarang, ketika intermittent fasting, one meal a day, sampai skip sarapan makin populer, muncul pertanyaan: apa benar makan 3 kali sehari itu paling sehat?

Dilansir dari berbagai sumber kesehatan terpercaya seperti Halodoc, jawabannya ternyata tidak sesederhana iya atau tidak.

Secara medis, makan tiga kali sehari memang punya dasar yang kuat. Pola ini membantu tubuh mendapatkan asupan energi secara stabil sepanjang hari. 

Sarapan berfungsi mengisi kembali energi setelah tubuh “puasa” semalaman, makan siang menjaga fokus dan produktivitas, sementara makan malam membantu pemulihan energi sebelum tidur.

Menurut ahli gizi yang dikutip Halodoc, pola makan teratur bisa membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah rasa lapar berlebihan, dan mengurangi risiko makan berlebihan di satu waktu. 

Ini penting, terutama bagi orang dengan aktivitas tinggi atau yang memiliki kondisi tertentu seperti diabetes. Namun, bukan berarti semua orang harus makan tiga kali sehari.

DetikHealth mencatat bahwa kebutuhan makan sangat dipengaruhi oleh usia, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, dan gaya hidup. Orang yang banyak bergerak jelas membutuhkan asupan energi lebih sering. 

Sebaliknya, bagi orang dengan aktivitas ringan atau yang sedang mengatur berat badan, pola makan bisa disesuaikan tanpa harus kaku tiga kali sehari.

Yang sering jadi masalah justru bukan soal frekuensi, tapi apa yang dimakan. Makan tiga kali sehari tapi isinya gorengan, makanan ultra-proses, tinggi gula, dan minim serat tentu tidak bisa dibilang sehat. 

Sebaliknya, makan dua kali sehari tapi gizinya seimbang karbohidrat kompleks, protein cukup, lemak sehat, sayur, dan buah bisa jadi jauh lebih baik untuk tubuh.

Halodoc juga menekankan bahwa pola makan sehat bukan hanya soal jam, tapi juga porsi dan kualitas makanan. Terlalu sering makan dengan porsi besar bisa memicu lonjakan insulin dan penumpukan lemak. 

Sementara makan terlalu jarang tanpa perencanaan bisa menyebabkan lemas, sulit fokus, dan metabolisme melambat.

Lalu bagaimana dengan tren skip sarapan?

Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa sebagian orang tetap sehat meski tidak sarapan, selama kebutuhan nutrisinya terpenuhi di waktu lain. 

Tapi bagi banyak orang, melewatkan sarapan justru bikin lapar berlebihan di siang hari, yang akhirnya berujung makan berlebih atau memilih makanan tidak sehat.

Kesimpulannya, makan tiga kali sehari bisa sehat, tapi bukan satu-satunya pola yang benar. Yang terpenting adalah mengenali kebutuhan tubuh sendiri, menjaga keseimbangan gizi, dan konsisten dengan pola yang bisa dijalani jangka panjang.

Tubuh kita bukan mesin dengan jadwal kaku. Ia butuh didengarkan, bukan dipaksa. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar