SURAT KABAR - Batas antara kerja, kehidupan pribadi, dan liburan kini makin sulit dibedakan. Di era kerja fleksibel dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, muncul dua istilah yang kian sering diperbincangkan, bleisure dan microretirement.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, dua konsep ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan cara pandang baru terhadap karier dan hidup secara keseluruhan.
Bleisure gabungan dari business dan leisure menggambarkan kebiasaan bekerja sambil berlibur. Dalam praktiknya, pekerja tidak lagi langsung pulang usai urusan kantor selesai.
Mereka memilih memperpanjang masa tinggal di kota tujuan, bekerja jarak jauh dari hotel, kafe, atau bahkan pantai, sembari menyisihkan waktu untuk menikmati suasana sekitar. Kerja tidak lagi terikat ruang, dan liburan tidak harus menunggu cuti panjang.
Tren ini tumbuh subur seiring meluasnya sistem kerja remote dan hybrid. Laptop, internet stabil, dan aplikasi rapat daring menjadi “kantor portabel” yang memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja.
Gen Z melihat perjalanan dinas sebagai peluang eksplorasi gaya hidup, bukan sekadar kewajiban profesional. Mereka bekerja di pagi hari, lalu menjelajah kota di sore atau malam hari, menciptakan ritme hidup yang lebih seimbang menurut versi mereka sendiri.
Dilansir dari Tempo, Gen Z memandang kerja bukan hanya soal target dan jam kantor, tetapi juga pengalaman. Bekerja dari tempat baru dianggap mampu memicu kreativitas, mengurangi kejenuhan, dan menjaga kesehatan mental.
Tidak heran jika banyak dari mereka yang rela membawa pekerjaan ke luar kota, bahkan luar negeri, selama target tetap tercapai.
Selain bleisure, muncul pula konsep microretirement. Berbeda dengan pensiun konvensional yang baru dinikmati di usia senja, microretirement menawarkan jeda karier dalam durasi pendek di usia produktif.
Tujuannya beragam, mulai dari rehat sejenak, belajar hal baru, hingga sekadar “menarik napas” dari tekanan pekerjaan. Setelah itu, mereka kembali bekerja dengan energi dan perspektif yang lebih segar.
Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Pola kerja fleksibel sering kali menimbulkan kekhawatiran di kalangan atasan. Kepercayaan menjadi isu utama: apakah karyawan benar-benar bekerja saat berada di lokasi wisata?
Selain itu, godaan liburan juga berpotensi memecah fokus dan menurunkan efektivitas kerja jika tidak diimbangi dengan disiplin yang kuat.
Generasi sebelumnya cenderung memisahkan tegas antara kerja dan liburan. Fokus utama adalah stabilitas karier, loyalitas jangka panjang, dan jam kerja yang jelas.
Sebaliknya, Gen Z lebih berani menegosiasikan ulang makna sukses. Bagi mereka, karier ideal adalah yang memberi ruang tumbuh, kebebasan, dan keseimbangan hidup. (SAT)
Ke depan, tren bleisure dan microretirement diperkirakan akan terus berkembang. Tantangannya ada pada bagaimana perusahaan dan karyawan menemukan titik temu. Fleksibilitas perlu diimbangi dengan tanggung jawab, sementara produktivitas harus sejalan dengan kesejahteraan mental. Di tengah dunia kerja yang terus berubah, satu hal menjadi jelas: cara orang bekerja tak akan pernah sama lagi.


Posting Komentar
Posting Komentar