Iklan

Di Tengah Jalan Buntu Nuklir Iran, Rusia Menyodorkan Satu Kata Kunci, Kemauan Politik

Posting Komentar
Nuklir Iran (Sumber: BBC)

SURAT KABAR - Ketegangan berkepanjangan seputar program nuklir Iran kembali menyorot rapuhnya arsitektur diplomasi global, ketika Rusia menilai kebuntuan yang terjadi bukanlah akibat ketiadaan solusi, melainkan minimnya kemauan politik dari para pihak yang terlibat.

Dikutip dari sumber terpercaya, pandangan itu disampaikan Direktur Departemen Nonproliferasi dan Pengendalian Senjata Kementerian Luar Negeri Rusia, Oleg Postnikov, yang menegaskan bahwa penyelesaian menyeluruh atas isu nuklir Iran sejatinya masih terbuka lebar. 

Menurutnya, prasyarat utama bukanlah tekanan tambahan, melainkan komitmen politik yang tulus.

"Kami percaya dengan komitmen politik yang diperlukan dari semua pihak yang terlibat, penyelesaian seputar program nuklir Iran sepenuhnya mungkin. Kemajuan apa pun ke arah ini akan disambut baik," ungkap Postnikov.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kembali retorika konfrontatif Barat terhadap Teheran, yang oleh Moskow dinilai justru memperpanjang krisis dan menutup ruang kompromi. 

Rusia, kata Postnikov, tetap berpijak pada kerangka hukum internasional, termasuk pengakuan terhadap kepatuhan Iran pada kewajibannya dalam Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) serta perjanjian pengamanan komprehensif dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Dalam pandangan Rusia, kepatuhan tersebut seharusnya menjadi landasan dialog, bukan diabaikan demi narasi ancaman yang terus diproduksi. 

Postnikov sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan Barat terhadap program nuklir Iran telah sengaja diarahkan ke jalan buntu, terutama setelah kegagalan negosiasi pada tahun lalu.

Ia menilai pendekatan eskalatif yang diambil negara-negara Barat bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya bagi stabilitas kawasan dan tatanan nonproliferasi global.

“Tahun lalu, upaya besar telah dilakukan untuk mencapai kesepakatan berkelanjutan yang akan menyelesaikan kesalahpahaman dan kecurigaan apa pun mengenai program nuklir damai Iran sambil mempertimbangkan kepentingan sah Teheran," ungkapnya.

Postnikov melanjutkan, Rusia berkontribusi dalam hal ini dengan segala cara. Sayangnya, kata dia, Barat telah mengadopsi kebijakan eskalasi.

"Yang pada dasarnya keliru, tidak dapat dipertahankan, dan mengarah ke jalan buntu,” ungkap Postnikov.

Bagi Moskow, kegagalan tersebut bukan sekadar episode diplomatik yang terlewat, melainkan cerminan dari perubahan strategi Barat yang lebih mengedepankan tekanan politik dan ancaman ketimbang negosiasi substansial. 

Rusia, lanjut Postnikov, meyakini bahwa tidak ada alternatif rasional selain jalur politik dan diplomatik untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan program nuklir Iran.

Pernyataan Rusia itu semakin relevan ketika pada hari Senin lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeraskan sikapnya. 

Dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran apabila Teheran dianggap terus mengembangkan program rudal dan nuklirnya.

Sinyal dukungan terhadap opsi militer tersebut mempertegas jurang perbedaan pendekatan antara Washington dan Moskow. Di satu sisi, Amerika Serikat dan sekutunya memilih bahasa ancaman sebagai instrumen tekanan. 

Di sisi lain, Rusia menilai pendekatan semacam itu hanya akan memperdalam ketidakpercayaan dan mendorong spiral eskalasi yang sulit dikendalikan.

Bagi Kremlin, isu nuklir Iran bukan semata soal teknologi atau kepatuhan teknis, melainkan ujian atas komitmen kolektif komunitas internasional dalam menjaga prinsip dialog, hukum internasional, dan stabilitas global. 

Tanpa kemauan politik yang sejati, Rusia mengingatkan, kebuntuan ini bukan hanya akan terus berlanjut, tetapi berpotensi berubah menjadi krisis yang jauh lebih luas. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar